Minggu, 01 Mei 2016

Aku Sudah Positif HIV (Cerita Gay 2016)

Hidupku bersama HIV dan ARV

Masih teringat ketika jawaban atas semua keingintahuan atas penyakit yang aku derita selama ini, saat itu dokter membacakan hasil tes lab (darah) ku.
Tepat tanggal 10 November 2015, di rumah sakit St Carolus, Jakarta Pusat, ruang Carlo namanya, khusus untuk melayani penderita VCT ataupun hanya sekedar keluhan lainnya.
Waktu itu dokter mengajakku masuk ke sebuah ruangan khusus untuk memberitahukan apapun dan bagaimana pun hasil tes kita, sudah 2 jam menunggu semenjak daftar/ mengisi data dan diambil sample darah.
Sebelum dokter membacakan hasil yang ada di kertas tertutup rapat oleh amplop itu dia memberikan beberapa pertanyaan, kapan terakhir berhubungan sex, apakah sekarang mempunyai pasangan, apakah suka melakukan sex tanpa pengaman, apakah sering berganti pasangan, apakah memakai narkoba suntik, dan masih ada beberapa pertanyaan lagi yang tidak aku ingat, karena aku sudah terlanjur penasaran dengan hasil tes yang ada di amplop yang di genggam dokter saat itu.
Kemudian dokter membuka ampop itu, terlihat ada 3 rangkap, tapi dengan tulisan yang sama, hanya ada tulisan hasil tes 1, 2 dan 3. Dan ternyata semua kertas itu berisikan bahwa hasilnya sama saja. Dan yang sangat membuat aku terkejut dan masih belum percaya sampai saat ini pun, ternyata hasil dari tes itu adalah Tn. M W Nugraha positif terinfeksi virus HIV.
Saat itu seperti mendengar kabar yang sangat sulit untuk diterima, dan bahwa kenyataannya sangat nyata, bahwa hasil tes itu tidak salah lagi, akurat kalau aku memang terinfeksi virus mematikan itu.
Menangis ? Tidak juga. Hanya sedikit sesak saja saat mau menarik nafas, seperti ada beban yang dengan eratnya menutup rongga mulutku. Sesak sekaligus berat rasanya untuk menerima kenyataan itu.
Dokter pun menjelaskan semuanya. Aku tidak mengidap penyakit serupa selain hiv saja.
Dia pun menyarankan untuk segera berobat. Karena kebetulan pemerintah menyediakan obatnya. Meskipun tidak menyembuhkan, tapi setidaknya ada obat untuk menekan pertumbuhan virusnya. Dan jumlah CD4 aku sudah rendah sekali, tinggal 108 lagi dari normalnya 400-600. Katanya kalau tidak segera berobat dan ditangani dengan tepat, akan timbul penyakit-penyakit lainnya, seperti infeksi, komplikasi dan yang lainnya. Tambah gemetar saja.


Aku sempat merasakan perut ku yang kosong, saat keluar dari ruangan itu aku hanya merasakan lapar karena menunggu terlalu lama dari tadi. Dan aku pun hanya berpikir aku harus makan, meskipun masih terus menggerutu dalam hati, aku tidak percaya kalau aku benar-benar terinfeksi virus ini, virus yang mematikan.


Disamping rumah sakit ada sebuah rumah makan cepat saji. Aku pun makan dan sekaligus istirahat untuk santai sambil browsing mencari info-info tentang cara pengobatan.
Ternyata hampir ada disetiap rumah sakit besar di Jakarta. Karena aku masih belum percaya dengan hasil tes itu, aku pun berniat kembali melakukan tes untuk kedua kalinya.

*

Keesokan harinya aku pun mendatangi rumah sakit Cipto (RSCM) yang tidak jauh dari St Carolus. Saat daftar, mungkin karena rumah sakit yang besar, ternyata mahal sekali untuk ukuran kantong ku saat itu. Tapi demi rasa penasaranku, aku pun tidak mempermasalahkan biaya. Setelah daftar, bertemu konselor dan dokter, ternyata aku sudah dipastikan positif, karena dilihat dari jumlah CD4 dan ciri-ciri orang yang terkena virus itu, salah satunya lidah berjamur dan aku memang sering sakit kepala juga tidak ada nafsu makan, ditambah daya ingat ku yang menurun, sering lupa. Mekipun tidak ada ciri-ciri lain, tapi dokter sudah tau semuanya, apalagi orang yang datang kesana bukan hanya 10 atau 20 orang, tapi ribuan, apalagi Jakarta adalah kota yang besar, dengan berbagai macam orang juga dengan masalah kesehatannya, termasuk penyakit yang saat ini baru aku ketahui berkembang di dalam tubuh ku.
Disana aku hanya diberi resep untuk melakukan rongent dan tes hepatitis dan tes darah lainnya, seperti sel darah dan lain-lain lagi. Dan disana memang tarifnya sangatlah tidak terjangkau menurut ku saat itu. Akhirnya aku pulang ke kost yang berada di gang 13 jalan Buncit Raya , Jakarta Selatan.


13 ? Ya, sebelumnya aku berpikir bahwa ini angka keramat yang membawa sial saja. Tapi masa iya ? Padahal pas tanggal 9 kemarin kan aku baru pulang dari Kota Solo untuk bertemu dengan orang yang sudah biasa seperti orang-orang yang memang mau bertemu dengan aku dengan upah yang aku minta. Ya, aku seorang pria bayaran. Aku makan dari hasil kotor menurut kebanyakan orang, tidak halal.
Sebenarnya aku tidak begitu kaget saat mengetahui kalau aku mengidap virus HIV, karena aku punya beberapa alasan kenapa aku ingin melakukan tes itu,  salah satunya aku sering melakukan sex yang beresiko, karena aku tidak pernah memakai narkoba jenis suntik, pernah pun menggunakan narkoba jenis hisap dan itu sudah lama sekali, itupun berupa serbuk pil dengan kadar sangat rendah. Hanya tuntutan saja.


Aku seorang gay. Bukan, tapi aku seorang bisex, karena rasa suka ku kepada lawan jenis masih ada, berbanding 50%. Kenapa aku menjadi seorang gay, aku tidak akan menjawab kenapa, tapi kalau untuk saat ini hanya kebutuhan saja, demi uang. Aku juga tidak munafik, aku pernah melakukan sex tanpa menuntut bayaran pada pasangan ku disaat sudah melakukan hubungan sex, karena aku juga pernah mempunyai pacar, beberapa kali. Ada yang memang karena aku cinta dan kebanyakan karena materi saja. Dan tidak sedikit juga yang hanya sekali dan bahkan ada yang beberapa kali juga yang menggunakan jasa ku. Langganan ?


Kenapa aku sampai ke pergaulan seperti ini, mungkin karena kebebasan saja. Tidak mungkin kalau tidak pernah menginjakkan di jalan bebas itu aku bisa sampai terjerumus sejauh ini. Dan yang sangat di sadari, bahwa pergaulan bisa saja di pause dan mungkin di stop jikalau memang itu tidak ada postifnya, tapi yang aku rasakan saat itu tidak ada orang yang bisa diajak bicara, teman, apalagi keluarga. Adapun teman, justru yang satu profesi dengan ku. Dan sampai saat ini aku belum membuka suara tentang penyimpangan sex ku ini pada keluarga, suatu saat nanti mungkin iya. Tapi kalau masalah aku terkena HIV aku sudah berbicara pada 1 orang teman dan 2 orang saudara, tapi aku belum mendapat respon dari keluarga, padahal aku menunggu bagaimana reaksi mereka, yang semua orang juga tahu bahwa virus ini sangat mematikan. Tidak pedulikah ? Senangkah ? Entahlah.


Kalau boleh jujur, aku ingin sekali terbuka pada mereka, keluarga ku. Tapi aku tidak yakin kalau mereka akan menerimanya, karena aku terlalu sering membuat masalah dan mengecewakan mereka dengan tingkah ku yang selalu membuat mereka gerah dan sangat geram, kecewa. Apalagi kalau aku langsung mengadu kepada mereka tentang hal ini, mungkin, eh aku tidak tau juga. Yang pasti untuk saat ini aku belum mau untuk membuka semua aib ku pada mereka, biarkan mereka nanti tau sendiri betapa buruknya kehidupan ku selama ini.


Ataukah mungkin sudah tau ?


Akhirnya aku pun kembali ke Bandung, tepatnya tanggal 18 November. Aku kost dekat dengan temanku yang tau semuanya. Prilaku ku yang tidak baik selama ini. Dia tau semuanya dibanding keluarga ku.
Setelah mencari tau, aku pun memutuskan untuk berobat ke rumah sakit Hasan Sadikin. Biaya daftar per sekali datang hanya 25 ribu. Masih terjangkau.
Oh iya, saat masih di Jakarta, aku mendatangi puskesmas Kec. Pancoran, Jakarta Selatan. Disana ada juga yang menangani masalah HIV. Apalagi jaraknya tidak terlalu jauh dari tempat tinggal ku saat itu. Hanya untuk konsultasi dan melakukan tes ulang juga tes darah dan lainnya. Hasil tes sudah dapat, begitu pun hasilnya masih sama, positif. Dan tidak ada keraguan lagi. Makanya aku langsung memutuskan untuk segera melakukan pengobatan.


Dengan membawa hasil tes, aku mendatangi RS Hasan Sadikin. Masih sama harus bertemu konselor. Dan memang dianjurkan untuk segera berobat. Untuk mendapatkan obatnya, yang disebut ARV (antiretroviral) kalau tidak salah, ternyata masih harus melakukan tes hepatitis, tes darah (CD4) dan tes dahak juga rongent karena saat di Jakarta baru beberapa saja, agar ketahuan kalau saja aku punya penyakit hepatitis dan atau TBC, kalau sudah terkena penyakit itu katanya ARV belum sapat dilakukan, harus sembuh terlebih dahulu kedua penyakit itu. Makin tidak karuan saja. Apalagi biaya untuk semua tes itu lumayan besar juga.


Akhirnya aku mencoba menghubungi beberapa LSM yang ada di Bandung, bertemulah dengan LSM yang bernama Bahtera. Kata mereka aku tidak bisa dibantu, karena riwayat ku terkena virus ini bukan karena narkoba suntik, melaikan karena melakukan sex yang beresiko, karena mereka hanya melayani orang tertentu saja. Tapi mungkin sudah ada jalannya, mereka mau membantu untuk biaya tesnya. Bersykur sekali.


Pada tanggal 7 Desember 2015, aku pun di acc untuk mendapatkan terapi obat ARV. Karena hasil tesnya bagus, aku tidak ada hepatitis, tidak ada TBC juga tidak ada infeksi lainnya. Mungkin karena aku segera melakuka tes HIV, jadi penyakit lain pun belum sempat hinggap di tubuh ku. Padahal kata dokter, orang yang CD4nya dibawah 200 sangat rentan terkena penyakit- penyakit itu, apalagi TBC.
Pertama diberi 15 butir obat. Untuk 2 minggu dulu katanya. Dan di jelaskan juga bahwa efek samping dari ARV ini macam-macam, seperti mengkonsumsi narkoba saja. Biasanya orang yang pertama terapi obat ini 2 sampai 1 bulan efek sampingnya sangat aneh- aneh. Seperti keleyengan dan sangat macam-macam, seperti halnya orang mabuk saja. Tetapi kalau aku hanya berselang 3 hari sampai 1 minggu saja. Obatnya sudah bisa menyesuaikan dengan tubuh ku. Aku hanya merasakan mimpi aneh saat malam pertama minum. Aku bisa membuat mimpi ku sendiri. Sangat lucu aku pikir. Yang ternyata aku baca di internet beberapa pengalaman orang saat pertama kali mengkonsumsi ARV itu ada yang menakutkan ketika mimpi, aku ? Aku malah bersemangat ingin segera meminumnya lagi. Ya meskipun aku tidak bisa membuat mimpiku sendiri saat malam kedua dan sampai saat ini. Mungkin hanya merasa ada keleyengan begitu jika terbangun dimalam hari.
                                 

Dokter pun kaget saat aku bilang aku tidak mimpi yang aneh- aneh setelah meminum obat itu. Jarang sekali orang yang langsung cocok dengan obatnya. Dan saat kontrol lagi, aku diberi obat langsung untuk sebulan. Dan sampai saat ini, aku sudah kontrol 2 kali.


Aku harus meminum ARV seumur hidup ku setiap jam 10 malam untuk menekan pertumbuhan virusnya, dan obat anti bakteri setiap jam 9 pagi selama 2 tahun.


Alhamdulillah, sampai saat ini berat badan ku sudah naik. Tidak sakit kepala lagi. Pernah juga sakit kepala, tapi rasa sakitnya beda saja. Dan tidak pernah demam lagi. Dan badan rasanya membaik saja.
Virus HIV memang akan tetap ada dalam tubuh ku, bahkan sampai aku mati. Hanya pertumbuhannya saja yang bisa di tekan. Bisa dilihat juga via tes veraload. Oh iya, veraload adalah cara agar bisa melihat berapa jumlah virus HIV yang ada dalam tubuh. Dan untuk melakukan tes itu biayanya jutaan. Dan syukurnya aku tidak perlu membayar untuk itu semua, karena di RS Hasan Sadikin, Klinik Teratai tepatnya, disana ada UNPAD yang melakukan penelitian seperti itu. Aku diajak dan di daftarkan untuk penelitian itu.

*

Dan saat ini hari-hari ku hanya melihat gunung-gunung, persawahan dan bukit-bukit yang hijau yang ada di sekitar rumah ku. Untuk sementara waktu, aku kembali ke kampung halaman ku. Aku perlu istirahat dari hiruk-piruknya suasana kota yang sangat penuh godaan juga cobaan.

***